Ceritaku dari 6th Urban Social Forum


15 Desember 2018
Begitu masuk lokasi urban social forum saya disuguhi peserta yang meramaikan potoboth dan peserta yang mendengarkan materi yang disajikan pembicara pada semua panel. Saya datang ke 6th Urban Social Forum yang diadakan di Lokananta Records sekitar jam 13.00 WIB. Karena saya pikir saya hanya mendatangi panel pada jam itu, maka saya tak mendatangi registrasi pada jam 07.30 WIB hingga Pleno pada jam 09.00 WIB. Karena datang lebih dari jam 13.00 WIB, saya langsung menuju meja registrasi untuk memperoleh kartu peserta dan agenda acara 6th Urban Social Forum. Kartu peserta yang dikalungkan di leher berfungsi sebagai media untuk  memepermudah perkenalan kepada peserta lain.

Kartu Peserta 6th Urban Social Forum

Pada lokakarya ini, saya berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai kampus, profesi, hingga kewarganegaraan. Ada yang telah menciptakan campaign, gerakan dan kegiatan lainnya yang dapat membantu menyelesaiakan masalah orang lain atau sekedar mengurangi beban mereka, serta beberapa kegiatan yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran, sikap anti korupsi dan lain sebagainya.

Pamflet Panel Diskusi 03

Pamflet Panel Diskusi 09

Saya memilih panel 03 mengenai “Mengakhiri Kemiskinan Melalui Pembangunan Inklusif Disabilitas” dan panel 09 mengenai “Hastha Laku Penjaga Toleransi”. Pada lokakarya ini ada 15 panel yang dimulai dari pukul 09.00 WIB hingga 17.30 WIB sesuai jadwal yang telah terpampang di agenda acara yang telah dibagikan kepada setiap peserta. Penel 03 saya bertemu Mas Bima, seorang aktivis sosial Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rungu Indonesia) bercerita mengenai masalah apa saja yang dialami teman-teman tuli. Dia sangat gencar berkampanye agar teman tuli mendapat hak yang setara dengan teman yang memiliki pendengaran baik. Selain itu ada Marthela Rivera Roiatua, atau biasa dipanggil Kak Thella. Adalah seorang Tenaga Ahli Direktorat Penanggulangan Kemiskinan, Bappenas. Beliau bercerita mengenai pengalamannya mendatangi tempat pemberdayaan masyarakat disabilitas di Indonesia. Beliau menjelaskan kebijakan-kebijakan yang mendukung masyarakat disabilitas dengan gaya santai. Selain itu ada pembicara lain yang mengatakan bahwa hak masyarakat disabilitas di Indonesia belum terpenuhi. Terutama infrastruktur publik dan perspektif masyarakat cenderung berstigma buruk pada disabilitas. Serta cerita inspiratif dari Abi Marutama, seorang aktivis sosial dari Kemenkumham mengenai masyarakat disabilitas. Saya juga sempat melemparkan pertanyaan mengenai disabilitas.

Q n A

Selanjutnya pada panel 09 saya mendapat materi program pemerintah Solo yang dibawakan oleh Pak Tamsul dari Kesbangpol Solo. Inspirasi dari kisah Beliau adalah Kota Solo yang memiliki Taman Cerdas dan stasiun radio yang disiarkan oleh anak-anak dengan materi seputar dunia anak. Ada juga tempat-tempat edukatif yang terbuka bagi masyarakat yang didesain untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak. Cerita beliau mengenai karakteristik masyarakat Solo yang welas asih, seperti inisiatif masyarakat Solo untuk menampung orang gangguan mental dan terlantar tanpa perintah dari Pemerintah Kota Solo. Lalu ada juga pemutaran film berjudul Hastha Laku Penjaga Toleransi yang disutradai oleh Maz Zain, saat ini Beliau sedang menempuh magister di Institut Seni Indonesia Solo.

Selain disediakan diskusi dan workshop di tempat, peserta yang tidak bisa datang ke Solo dapat menyaksikan rekamannya di channel yotube urban social forum. Dan ketika acara berlangsung peserta bisa diskusi online atau bergabung dengan diskusi melalui media sosial yang disediakan oleh panitia.

Di depan studio utama ada pameran ecobricks dari ecobricks.org yang mengampanyekan bahaya plastik bagi lingkungan karena perlu berjuta-juta tahu untuk menguraikannya dan pentingnya beralih dari penggunaan plastik pada suatu saaat nanti. Dengan membuat ecobricks yang disusun menjadi berbagai bentuk seperti meja dan sofa, serta menara. Saya dan Kak Thella diajari Mbak Ani dan Mas Russel Maier bagaiamana cara menyusun ecobricks. Saya dan Kak Thella menyusun menara dan meja berbentuk bintang dikelilingi kursi disekitarnya. Lalu kami take wifie sambil duduk bercengkrama. Memanfaatkan keceriaan sesudah membuatnya dan ngobrol berfaedah di tempat itu bersama Kak Thella, Mbak Ani dan Kak Bima Marutama mengenai sampah, dan topik lainnya yang secara tidak langsung menambah wawasan.
Ecobricks atau bata ramah lingkungan. Bisa juga dibuat meja 


Selanjutnya kami menikmati screening atau pemutaran film dari seniman lokal dan penampilan musik. Sebelum screening atau pemutaran film, para peserta diarahkan untuk jamuan makan malam, gratis. Tapi karena sudah kenyang saya memilih tidak gabung.

Film-film yang ditampilkan jika ditarik benang merahnya akan berbunyi “Aksesibilitas ruang kota yang belum adil untuk semua kalangan”. Film pertama menceritakan bagaimana masyarakat Indonesia yang mengalami disabilitas kesulitan ketika mengakses infrastruktur publik. Seperti desain tangga jembatan penyeberangan orang yang jarak antar anak tangganya terlalu renggang. Serta gading block atau garis kuning di pedestrian yang apabila ada perbaikan atau penggalian tidak memberi notifikasi ramah disabilitas. 
Film kedua bercerita mengenai ruang seni yang seharusnya memberi ruang kebebasan berkarya hanya ada 1 yaitu di Galeri Kesenian Solo, dibongkar. Saat pembongkaran pada tahun 2017 film dokumenter ini dibuat. Jiwa pantang menyerah seniman Kota Solo melahirkan ruang seni ala kadarnya yang hingga kini telah menjadi ruang seni yang dapat kita nikmari bahkan dari luar Kota Solo. Kini kita dapat menikmarinya di instagram dengan nama ruang atas. Namun film ini hanya menyajikan cerita hingga pembongkaran saja. Setelah itu tidak dibahas, tetapi diceritakan oleh salah satu pemain dalam film dokumenter tersebut. 
Film ketiga juga film dokumenter, dengan bumbu romantis. Harapannya film ini akan menjadi obat kerinduan bagi masyarakat Solo akan Taman Sriwedari. Awal film bercerita mengenai wanita yang mengenang masa kecilnya di Taman Sriwidari. Dimana adalah tempat yang menghibur masa kecil masyarakat Kota Solo, selain Taman Balekambang yang sekarang harus bayar jika masuk. Proses pembuatan film ini pada tahun desember 2017 sebelum Taman Sriwidari dibongkar. 

Penampilan grup band jungkat jungkit yang melantunkan bait-bait romantis dengan iringan musik bernafaskan blues hingga country mampu mencairkan suasana. Grup band dengan gitaris licah bernama Said alumni Endang Soekamti ini bersama Adisa sebagai vokaslis dan seorang pianis.
Jungkat Jungkit Band

Urban Social Forum pertama kali diselenggarakan oleh kotakita.org yang bermimpi agar Indonesia memiliki “A City For All” yaitu memiliki Kota yang inklusif untuk semua masyarakat tanpa mendahulukan kepentingan RAS atau kaum-kaum tertentu. Setiap tahun topik yang diangkat berbeda-beda, menyesuaikan tren yang terjadi pada tahun  tersebut. Urban Social Forum diawali pada tahun 2013 di Kota Solo. Lalu digelar kembali pada tahun 2014 di Kota Solo, tahun 2015 di Kota Surabaya, tahun 2016 di Kota Semarang, tahun 2017 di Kota Bandung serta tahun 2018 ini kembali diadakan di Kota Solo.

16 Desember 2018

            Hari kedua 6th Urban Social Forum diadakan di Rumah Banjarsari dan Kampung Sewu. Ada 6 sesi diskusi panel, 3 workshop dan 1 sesi duskusi yang dimulai jam 09.00-15.30 WIB. Saya memilih mengikuti workshop 2 yang membawakan tema “Melihat dengan Lensa Ketahanan (Resilience): Mengintegrasikan Ketahanan ke dalam Proyek-Proyek Urban”. Workshop tersebut dipecah menjadi 3 panel, yaitu mewakili Kota Malaka, Kota Semarang dan Kota Jakarta. Saya memilih Kota Semarang karena saya sedang menempuh studi di Kota Semarang. Lalu setiap peserta diminta untuk memaparkan masalah, gagasan untuk mengatasinya, pihak yang terdampak dan penerima manfaat dan pihak yang akan mengimplementasikan gagasan itu.
Pamflet Workshop 02

Resilient cites adalah kota tangguh atau kota yang memiliki ketahanan terhadap bencana. Kota yang tangguh tidak hanya tercipta karena fisik bangunan atau perubahan fungsi lahan. Tetapi sifat sosial masayrakat seperti adaptif, tanggap dan responsif ketika datang bencana juga lebih penting. 

            Panel ini mengudang pembicaranya dari Kota yang menjadi anggota 100 resilience cities. Pada panel Semarang pembicaranya adalah Bapak dari Pusat Informasi Publik, Balai Kota Semarang dan Dr. -Ing Wiwik Wiwandari Handayani, ST, MT, MPS, adalah Dosen dari Universitas Diponegoro. Alhamdulillah saya pernah diajar pada mata kuliah demografi di semseter 3. 


Peserta yang asli Kota Semarang dilist namanya untuk diskusi lebih lanjut lain waktu, dan ada sekitar 4 peserta. Ketika melist nama dan nomor HP saya malah menuliskan nomor Nomor Induk Mahsiswa (NIM). Mungkin nervous sama Dosen sendiri haha. Workshop 2 diakhiri dengan perwakilan panel dari 3 kota untuk mempresentasikan hasil diskusi panelnya. Selanjutnya evaluasi dari pembicara sekaligus moderator tiap panel dan closing statement dari perwakilan 100 Resilience Cities Jakarta.

            Malam terakhir diakhiri dengan penampilan kesenian teater oleh Akting Rumah Banjarsari, pantomim Kelompok PUSPA dan musik akustik oleh Teater Soekamto pada jam 16.00-17.30 WIB. Disusul penampilan musik akustik oleh Java Paragraph, orgen tunggal oleh Kelompok Pesona, tari lengger oleh Otniel Tasman dan musik oleh Laksar Adiwiyata Percusion.  

0 Komentar