Workshop Blue Carbon Emission

Pernahkah kamu mendapat sesuatu yang tidak kamu harapkan, tapi kamu suka hal itu?. Simpelnya... Keberuntungan. Iya, keberuntungan atau nasib baik pernah saya dapatkan ketika saya mengikuti diskusi mahasiswa tentang lingkungan dalam acara Climate Awareness Day (CAD)  di Desa Tapak, Kecamatan Tugurejo. Saat itu ada tiga pembicara : Bappeda Semarang, Climate Institut dan FNF Indonesia. Pada sesi Tanya jawab saya memberanikan diri untuk bertanya: "Apakah fungsi pohon mangrove yang ditanam di sekitar Pantai, jika diperlukan tanggul buatan seperti karet ban?". Kurang lebih pertanyaanya seperti itu. Dari pihak Bappeda menjawab kurang lebih seperti ini "Mangrove itu tidak dapat tumbuh dengan cepat, jadi harus ada pelindung sementara hingga mangrove dewasa. Selain itu karet ban berfungsi menangkap material yang dibawa ombak agar nantinya dapat membentuk sedimen baru, agar garis pantainya semakin panjang".

Jeng..jeng..jeng, saya dapet merchandise kaos, dan bisa foto bareng bersama penanya lainnya. Terus hubungannya sama Kepulauan Seribu apa dong?. Tunggu sebentar ini juga mau cerita.

Jadi, kurang lebih 2 minggu setelahnya saya dihubungi Kakak Tingkat saya. Namanya Kak Hedy Zuliana, yang sekaligus menjadi moderator di acara CAD kemarin. Katanya ada Workshop Blue Carbon Emission, yaitu lomba menarasikan sebuah cerita mengenai perubahan iklim yang diadakan oleh Climate Institut dan FNF Indonesia. Nantinya delegasi terpilih akan mengikuti Youth Camp di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu.

Saya bergabung. Dan waktu pengumuman tiba. Poster dipampang di akun instagram FNF Indonesia. Meski nama saya tidak tertulis sebagai finalis. Alhamdulillahnya, nasib baik datang kepada saya. Ada finalis yang tidak bisa hadir ke Pulau Ayer, Kepulauan Seribu. Akhirnya saya terpilih menjadi delegasi untuk menggantian finalis terpilih, dengan golden ticket. Betapa senangnya saya...

Tiba di Pulau Ayer

Surga. Inilah kata paling tepat untuk mendeskripsikan Pulau Ayer, salah satu Pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu. Tempat yang berada di Utara Ancol tersebut berjarak cukup dekat dengan Jakarta. Jarak tempuh yang cukup dekat dapat ditempuh menggunakan kapal kecil. Tapi berhubung Aku takut banget sama ombak, Aku pake pelampungnya pertama kali. Keamaan kan nomor 1, setuju?

Perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit, dengan pemandangan lautan bebas
Sesampai di Pulau Ayer, sekitar jam 10 a.m. Kami disambut dengan jus jeruk berukuran gelas
mungil. Manis campur asem, tapi rasa jus nya tetap segar. Setelah parno dengan pulau mungil, yang hanya dengan waktu 10 menit kita bisa mengitari seluruh pulau, kita diarahkan ke auditorium utama.

Auditorium inilah yang akan menjadi tempat workshop pada acara Youth Camp digelar. Auditorium ini hampir sepenuhnya dibuat dengan kayu. Entah kayu apa, sayang aja kalau ditebangnya dari hutan Indonesia tercinta.

Welcome Drink di Kusi Panjang

Awal yang cukup baik

Welcome Drink di Kapal
Pagi menjelang siang. Kami berkenalan dengan masing-masing delegasi dengan balutan games seru. Berpapasan dua-dua, kami bergantian memperkenalkan diri. Lalu ada juga games panjang-panjangan. Maksudnya kami membuat banyak kelompok kecil, lalu kelompok yang dinilai paling panjang maka akan jadi pemenangnya. Finally, pemenangnya bukan kelompokku. Tapi kelompok sebelah. Seusai game, kami diberikan kunci Cottage. Tiap kamar berisi dua orang.

Ps : Cottage itu kayak rumah apung gitu.

Desain Cottage ini katanya diduplikasi dari rumah adat Papua Barat. Dengan corak yang berwarna-warni. Luar biasa cottage nya bersih banget, wajarlah tiap hari dibersihkan. Aku sekamar dengan seorang mahasiswa UIN Surabaya, Aku lupa namanya. maafkan sobatmu ini tak mengingat namamu.

Pulau Ayer sangat ramah buat anak-anak. Ada papan nama di setiap pohon, tujuannya untuk mengedukasi anak-anak agar mengenal tanaman. Lalu tersedia kolam renang, tentunya dengan air tawar, lengkap dengan waterboom nya. Menurut petugas setempat, air di Pulau ini berasal dari laut yang disuling hingga berubah menjadi ait tawar. Selain itu ada jogging track yang berpaving mengitari seluruh pulau ini. Restoran pun cukup megah. Ada restoran indoor maupun outdoor yang menyajikan hamparan lautan luas dengan sedikit pemandangan gedung-gedung Jakarta yang lebih mirip miniatur kota. Kalau malam tiba gedung-gedung itu terlihat berwarna-warni.

Suasana di Cottage begitu tenang. Tidak ada bising motor, yang ada hanyalah deburan ombak. Lha wong petugas nya saja pakai sepeda. Kalau tertarik menyewa sepeda, karena bosan jalan kaki bisa kok pinjam, tapi agak mahal. Maklum lah bisa dipakai seharian. Ada juga perlengkapan pancing yang bisa disewa, tapi sayang saya belum sempat mencobanya.

Binatang yang ada disini ada yang membuat saya takut dan ada yang membuat takjub. Pasalnya saya baru tahu kalau ada biawak segedhe baskom. Untung mereka ramah. Awalnya aku sangat takut, tetapi waktu aku mencoba mendekatinya, dia malah terbirit-birit. Lha kok dia takut sama saya. Yang membuatku takjub adalah bermacam-macam burung dari berbagai dunia, bertengger di pohon-pohon berusia puluhan tahun ini.

Kamarnya sangat unik. Interior kamar yang dibuat mirip bangunan suku Asmat, Papua Barat membuat saya betah. Didalamnya dilengkapi AC, Televisi, dan Kulkas berisi makanan dan minuman, serta Kamar mandi shower hangat. Perlu diingat, karena tujuan saya kesini mengikuti acara, maka saya harus meninggaklan kamar tidur diwaktu acara Youth Camp berlangsung. Dan kembali ke kamar setibanya break atau tidur malam.

Acara Youth Camp tidak hanya melulu presentasi dan menghadirkan pembicara dari Kementrian atau NGO dan Pihak-pihak yang menerjunkan dirinya dalam upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga disertai kegiatan-kegiatan seru. Sehingga kami sangat menimati acara. Seperti kuis ala Who Wants To Be A Millionaire, Nonton film bertema lingkungan, Focus Group Discussion (FGD) dan permainan seru lainnya. Di sela-sela acara, ada insiden lucu juga loh. Ssst, pas kita mendiskusikan AC yang dipasang di Pulau ini dianggap mengeluarkan gas CFC  yang akan berdampak buruk pada lingkungan sekitar, berujung dengan matinya AC Auditorium secara mendadak.  Ternyata mereka mengawasi diskusi ini.

Meski bukan finalis, tetep aja harus presentasi.

Acara yang cukup serius ini tetap diselingi aktifitas olahraga. Setiap pagi sebelum sarapan kita menyempatkan olahraga sebentar. Waktu itu kami senam maumere. Senam yang ke kanan... ke kanan..., ke kiri... ke kiri.., sambal merem melek. Jam 7 pagi cuy, belum sarapan pula. Lebih semangat perutku malah, sudah getar mau minta makan.

Ekspresi sehabis Senam Maumere, pengen sarapan
Puncak acara Youth Camp digelar di panggung yang berbentuk kapal dengan hiasan lampu yang sangat indah. Acara penutup ini adalah Culture Night. Sesuai namanya, kita menampilkan budaya asli Daerah masing-masing lengkap dengan busana nya. Ada yang menampilkan tari piring asli Minangkabau, Nyanyian asli Medan yang aku lupa judulnya, Gesekan biola disertai puisi dan masih banyak lagi. Aku beserta 3 orang di kelompokku menyanyikan lagu-lagu tradisional. Namun, setelah kelompokku, ada yang membawakan lagu khas Medan yang membuat semua delegasi berjoget lepas penuh semangat. 

Culture Night
Keeseokan harinya kami harus menghadapi drama perpisahan. Sedih senang bercampur aduk. Kami pun berpisah di tempat keberangkatan kami di pier 19 Dermaga Ancol. Dan kembali ke Daerah asal masing-masing. Dada.. kawan-kawanku, semoga pertemanan kita tetap abadi. Aamiin